BANGUNKAN RAKSASA DI DALAM DIRI ANDA
Takaran
Anda Yang Sebenarnya Diukur Dari Keberanian, Kearifan dan Cinta Anda.
Bahkan sebagai bayi gajah sekalipun,
Bulig sangat besar. Ketika Bulig bertumbuh dewasa, ia lebih tinggi dan lebih
besar dari semua teman-teman sepermainannya. Tidak perlu waktu lama hingga
gajah lain merasa takut padanya. Dan Bulig mengetahui hal ini. Karena itu ia
menggunakan ukurannya untuk menakuti yang lain untuk melakukan apa yang ia
ingin mereka lakukan... Ia akan mendengus dan menggeram sambil berkata, “Aku
akan remukkan kamu!” Itu merupakan salam yang biasa ia katakan pada siapapun
yang ia jumpai di jalan. Kenyataannya, jika gajah-gajah lain merasa takut pada
Bulig, binatang-binatang kecil lainnya juga demikian. Para monyet, kijang,
harimau dan bahkan singa pun terkagum-kagum terhadap binatang yang sangat besar
itu.
Para gajah memberinya sebuah rumah
istimewa di puncak sebuah bukit kecil. Dan tahta Bulig adalah sebuah ranjang
berukuran raksasa. Disitulah ia berbaring dan memerintah seluruh hutan. Setiap
pagi, para gajah akan memberinya sekeranjang pisang. Dan para monyet akan
memberinya sekeranjang apel. Dan kijang akan memberinya sekeranjang kacang. Hal
ini terjadi setiap hari. Karena itu Bulig bertumbuh semakin besar. Dan semakin
ia bertumbuh, semakin takutlah binatang-binatang terhadapnya.
Ia sekarang menjadi sesosok dewa
bagi seluruh binatang di sana . Sekelompok burung undan bergantian
mengipasinya. Sekelompok burung parkit bernyanyi baginya setiap pagi.
Sekelompok kera berakrobat sebagai hiburan malam baginya. Untuk waktu yang
sangat lama, Bulig jarang meninggalkan rumahnya. Sebenarnya, selama
bertahun-tahun, ia bahkan tidak pernah berdiri dari ranjang raksasanya. Yang ia
lakukan hanyalah mendengus dan menggeram sesekali waktu, “Aku akan remukkan
kamu!” Dan setiap kali ia mengatakan itu, semua binatang akan sangat
ketakutan.. Karena ia tidak banyak bergerak, ia menjadi segemuk seperti sepuluh
gajah yang dijadikan satu!
Sekarang, bahkan binatang-binatang
lain dari hutan-hutan lain pun datang berkunjung untuk melihat dengan mata
kepala sendiri kalau Legenda Gajah Raksasa itu benar adanya. Dan mereka semua
akan berdiri ketakutan melihat makhluk yang sangat besar itu. Salah satu
binatang itu adalah seekor kura-kura kecil bernama Pokito. Pokita mendengar
tentang gajah ini dan ingin melihatnya. Sebagai seekor kura-kura muda dan
senang bermain, ia berpikir akan luar biasa sekali jika dapat berteman dengan
gajah raksasa itu. Maka suatu hari, ia menghampiri Bulig yang tampak seperti
sebuah gunung dibanding dirinya. Tapi Pokito tidak takut. Ia berkata, “Hi Bulig
besar! Bolehkah aku menjadi temanmu?” Semua binatang di sekitar Bulig menahan
nafas dengan tegang. Siapa yang berani berbicara seperti itu pada Bulig? Apakah
ia sadar apa yang sedang dikatakannya? Kura-kura malang ! Bulig merasa terhina
karena seekor makhluk kecil itu tidak menyembahnya sebagai dewa. Maka ia
mendengus dan menggeram seperti biasanya dan berkata, “Aku akan remukkan kamu!”
Namun Pokito adalah seekor kura-kura bijak.. Ia melihat ada kelemahan besar di
balik ukuran tubuh Bulig. Ia kasihan padanya. Karena itu ia hanya berkata,
“Bulig, aku hanya ingin menjadi temanmu. Jika engkau tidak mau, tidak apa-apa.
Aku akan tetap gembira…”
Ketika ia membalikkan badan, Bulig
bahkan menjadi lebih marah dan mendengus dan menggeram lagi dan berkata dengan
suara yang lebih keras, “AKU AKAN REMUKKAN KAMU!” Semua binatang lari terbirit-birit
ke belakang semak-semak, batu-batu, dan pohon-pohon. Ini adalah pertama kalinya
mereka mendengar Bulig marah sedemikian rupa. Pokito membalikkan badan
menghadap raksasa itu lagi dan berkata dengan tenang, “Bulig, aku tidak akan
melakukan itu kalau aku jadi dirimu. Engkau akan menyakiti dirimu sendiri…”
Wajah Bulig merah padam seperti sebuah mobil pemadam kebakaran. Ia berdiri..
Atau paling tidak ia berusaha. Ingat, sudah bertahun-tahun sejak ia terakhir
kali berdiri! “Ummph… Ummmph…. Ummmmmmmmmph!” Berkali-kali Bulig mencoba namun
ia tak dapat berdiri! “Bulig, jangan lakukan itu…,” kata Pokito. Semua binatang
keluar dari persembunyian mereka. Mereka sangat terkejut melihat dewa mereka
mengalami kesulitan untuk berdiri! Akhirnya, kaki Bulig tertekuk dan ia jatuh
ke tanah. Whaaam! Sekarang Bulig kesakitan, tapi penghinaan yang dialaminya
jauh lebih besar dari sakit fisik yang ia alami saat itu. Pertama, seekor
monyet kecil mulai mengejek. Tak lama, monyet-monyet lain melakukan hal yang
sama. Dan setelah beberapa saat, semua binatang mulai mempermalukan Bulig.
Mereka mencemooh dan memberinya julukan. “Makhluk lemah!”, “Si Gendut!”, dan
“Gudang lemak!” Tiba-tiba Pokito berteriak, “Hentikaaaaaaaaaaan!” Semuanya
berdiam diri di hadapan kura-kura pemberani ini. “Selama bertahun-tahun, kalian
menyembah Bulig sebagai dewa,” kata Pokito, “tapi sekarang, kalian menghinanya
seperti musuh. Mengapa kalian lakukan itu? Bulig hanyalah salah satu dari kita,
sama seperti binatang lainnya.”
Pokito berjalan mendekati Bulig yang
tertunduk dan dipenuhi rasa malu serta berkata, “Apakah engkau butuh bantuan
untuk berdiri?” Dengan perlahan, Bulig menganggukan kepalanya. Kura-kura itu
berbalik ke gajah-gajah lain, “Bantu temanmu berdiri.” Gajah-gajah lain takjub
dengan kearifan kura-kura kecil ini. Mereka semua berdiri di samping raksasa
itu, dan bersama-sama, mengangkatnya. Dengan upaya yang keras, gajah raksasa
itu berdiri. Dengan lututnya yang masih gemetar, Bulig tersenyum kepada
kura-kura itu dan berkata perlahan, “Terima kasih. Engkaulah raksasa
sesungguhnya.” Pokito tersenyum. “Terima kasih.” Bulig bertanya, “Maukah engkau
menjadi temanku?” Kura-kura itu berkata, “Dengan satu syarat. Engkau harus
jogging bersamaku setiap pagi.” Ia berkedip. Dan semua binatang tertawa serentak.
Berikut adalah 7 pelajaran tentang
mengubah hidup dari cerita tersebut:
1. Jangan
mencari penyembah-penyembah, tetapi carilah sahabat-sahabat sejati... Tidak
semua teman diciptakan sama. Beberapa teman hanyalah penggemar. Mereka
mengagumi Anda. Mereka menyanjung Anda. Mereka takut terhadap Anda. Mereka
mengambil keuntungan dari Anda. Namun ketika Anda membutuhkan mereka, mereka
tidak ada.
Pilihlah
sahabat sejati daripada penggemar. Ketika Anda mengalami kesulitan, mereka akan
tetap berada di sisi Anda..
2. Cara
terbaik untuk mencari seorang sahabat sejati adalah menjadi seorang sahabat
sejati. Apakah Anda seorang sahabat sejati? Apakah Anda memberikan perhatian
kepada orang lain? Apakah Anda menunjukkan kasih Anda terhadap mereka dengan
cara yang tidak biasa? Investasi terbaik yang akan pernah Anda lakukan adalah
dalam relasi Anda. Di situlah harta Anda berada.
3. Penggertak
itu lemah. Hindari atau tentanglah, namun jangan pernah takut terhadap
penggertak. Apakah Anda punya penggertak dalam hidup Anda? Anda akan selalu
berhadapan dengan para penggertak. Mereka mengintimidasi orang. Mereka ingin
Anda merasa takut terhadap mereka. Mereka memanipulasi Anda untuk mengikuti
mereka. Tergantung situasi, Anda dapat menghindari atau menentang mereka. Namun
jangan pernah takut terhadap mereka. Karena semua penggertak adalah palsu.
Dengan paksaan, mereka menutupi kelemahan yang ada di dalam diri mereka. Tapi
jauh di dalam, seorang penggertak adalah seorang anak rapuh yang memiliki
banyak ketakutan.
4. Ketika
seseorang tidak suka menjadi temanmu, biarkan saja dan tetaplah bersukacita.
Hidup terlalu indah untuk disesali hanya karena penolakan seseorang. ‘Orang
yang selalu ingin menyenangkan orang lain’ ingin menyenangkan setiap orang. Dan
ketika seseorang menolak mereka, mereka akan tewas. Karena mereka memerlukan
perasaan dibutuhkan. Ketika seseorang menolak mereka, mereka sangat terluka –
dan membawa luka ini ke manapun mereka pergi dan membiarkan luka ini berdampak
bagi hidup mereka selamanya. Apa yang dilakukan seorang yang dewasa ketika
mereka mengalami penolakan? Mereka juga terluka sama seperti orang lain namun
mereka tidak membawa luka itu terus-menerus. Mereka mengebaskan debu di kaki
mereka dan terus maju. Mereka mencintai diri mereka. Mereka mencintai hidup.
5. Ketika
seseorang marah terhadap Anda dengan cara yang tidak adil, kasihanilah orang
itu. Ia akan menyakiti dirinya sendiri. Jangan mengasihani diri sendiri ketika
Anda menerima kemarahan yang tidak adil. Ingatlah bahwa kemarahan yang tidak
adil itu menghancurkan orang yang marah, bukan Anda. Kasihanilah orang itu.
6. Selalu
bersikap baik dan ramah kepada setiap orang, entah dia itu seorang raja atau
seorang pengemis. Setiap manusia yang Anda temui dalam hidup adalah anak-anak
Tuhan. Entah ia duduk di atas tahta atau terbaring di lumpur, tak ada bedanya.
Orang tersebut adalah keluarga Anda.
7. Takaran
Anda yang sesungguhnya diukur dari keberanian, kearifan dan cinta Anda. Apakah
Anda seorang yang besar? Ukurlah keberanian dan kearifan Anda. Dengan cara Anda
mengasihi, Anda bisa tahu apakah Anda sudah dewasa dalam hidup atau tidak.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar